Beranda Memulai Bisnis Lean Startup: Bagaimana Membuat Produk Yang Diinginkan Pelanggan

Lean Startup: Bagaimana Membuat Produk Yang Diinginkan Pelanggan

560
1
lean startup, lean startup adalah
metode lean startup

Tulisan ini merupakan intisari dari metodologi Lean Startup yang ditulis oleh Eric Riess

Kesuksesan Startup dapat didesain dengan mengikuti prosesnya, yang berarti hal tersebut bisa dipelajari.– Eric Ries

Dalam mengembangkan suatu produk baru atau bisnis yang baru, memenuhi ekspektasi dan keinginan pelanggan adalah prinsip yang utama. Tanpa adanya pelanggan yang menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh bisnis anda maka bisnis tersebut tidak akan bisa bertahan.

Pengembangan produk baru atau bisnis baru yang tidak melalui proses customer development mempunyai risiko dimana produk yang telah dibuat tersebut rupanya tidak direspon positif oleh Pelanggan atau lebih buruk lagi Pelanggan tidak memandang masalah yang ingin diselesaikan oleh produk tersebut bukan sebagai suatu masalah.

Dalam buku “Lean Startup:How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses” Eric Riess menjelaskan bahwa pendekatan “Just Do It” dalam pengembangan suatu produk atau bisnis bukanlah satu-satunya pilihan.

Terdapat pilihan lain untuk menggunakan pendekatan yang lebih sistematis guna mencapai product/market fit (berada dalam pasar/segmen yang bagus dan produk yang dapat memenuhi kebutuhan pasar). Pilihan lain tersebut adalah Lean Startup.

Apa Arti Lean Startup?

lean startup, lean startup adalah
metode lean startup

Untuk banyak entrepreneur pertanyaan tersebut pasti muncul. Lean Startup pada intinya adalah sebuah metodologi dalam membangun suatu Metodologi Lean Startup menawarkan pendekatan yang sistematis dan ilmiah dalam menciptakan dan mengatur startup untuk mencapai terwujudnya produk yang diinginkan oleh pelanggan dengan lebih cepat.

Lean startup mengajarkan prinsip-prinsip utama yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut, prinsip-prinsip utama dari Lean Startup adalah sebagai berikut:

1. Validated Learning

Dalam buku Lean Startup “Validated Learning” didefinisikan sebagai “suatu proses dari demonstrasi secara empirik bahwa suatu tim telah menemukan kenyataan berharga mengenai suatu prospek bisnis masa sekarang dan masa depan.”

Dalam bahasa yang lebih mudah mengerti Validated Learning dapat didefinisikan sebagai proses mencari tahu fakta yang relevan terkait dengan prospek bisnis startup.

Lalu bagaimana cara mencari tahu fakta yang relevan terkait dengan prospek bisnis dari startup tersebut? disinilah diperlukannya suatu hipotesis atau asumsi inti terkait dengan prospek bisnis startup.

Hipotesis atau asumsi inti tersebut kemudian diuji dengan eksperimen lapangan untuk memperoleh tanggapan dari calon pelanggan apakah hipotesis tersebut benar atau tidak.

Sebagai contoh bayangkan ada startup bernama “Transuransi” yang mempunyai hipotesis masalah dari rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia disebabkan oleh image asuransi yang buruk, tidak transparan dan tidak menjelaskan manfaat secara benar.

Kemudian untuk mengetahui apakah asumsi tersebut tepat, pendiri Transuransi bernama Romi menanyakan kepada orang-orang yang berdasarkan hipotesisnya adalah calon pelanggan dari “Transuransi” yaitu orang-orang yang kurang teredukasi mengenai asuransi.

Dari proses eksperimen yang dilakukan “Transuransi” kemudian akan diketahui apakah memang benar masalah dari rendahnya penetrasi asuransi adalah masalah-masalah image, tidak transparan atau tidak jelasnya manfaat yang diberikan, dan bukan terkait masalah harga premi.

Benar atau tidaknya hipotesis tersebut tentu berdampak kepada produk yang akan dibuat oleh Transuransi, jika memang benar masalahnya ada pada image asuransi yang buruk, tidak transparan dan tidak menjelaskan manfaat secara benar maka fitur yang harus ditonjolkan oleh Transuransi jelas adalah transparansi dan edukasi terkait dengan asuransi.

Sebaliknya jika rupanya masalahnya adalah harga premi yang tinggi maka Transuransi harus membuat produk asuransi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat yang belum berasuransi.

 Setelah memahami apa itu validated learning maka saatnya untuk mengetahui apa guna dari validated learning tersebut dalam prinsip kedua Lean Startup.

2. Build-Measure-Learn

proses lean startup, lean startup, build measure learn

sumber:lean startup

Build-Measure-Learn adalah siklus umpan balik yang menjadi inti dari metodologi Lean Startup.

Tujuan dari Build-Measure-Learn adalah untuk memberikan fakta empirik yang dibutuhkan dalam Validated Learning, proses dari Build-Measure-Learn digambarkan sebagai tiga tahap yang berulang sebagai berikut:

  1. Build: Buat produk berdasarkan hipotesis-hipotesis inti yang telah diuji dengan Validated Learning. Untuk pertama kali produk yang dibuat berupa Minimum Viable Product (“MVP”). MVP adalah produk dalam bentuk minimal yang hanya memiliki fitur-fitur inti untuk menguji lebih lanjut hipotesis-hipotesis yang belum tervalidasi.
  2. Measure: Kumpulkan data reaksi,saran, masukan dan umpan balik dari pengguna MVP dan ukur hasil yang diperoleh dengan tujuan memperoleh pengetahuan terkait hiposis yang diuji.
  3. Learn: Buat kesimpulan dari hasil proses Measure apakah hipotesis yang diuji benar atau salah.

Hasil dari tahap Learn kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan atau perubahan terhadap produk atau strategi.

Kesimpulan yang diambil dari proses ini juga menentukan keputusan apakah kemudian Pendiri Startup harus “Persevere” atau “Pivot”. Persevere adalah melanjutkan proses pengembangan dengan strategi atau produk yang sama, sedangkan Pivot adalah melakukan perubahan atau mengganti sebagian atau seluruh strategi atau produk.

 

3. Akuntasi Inovasi

Dalam sebuah startup, akuntasi tidak dapat hanya menghitung hal-hal terkait keuangan seperti pendapatan, rugi, laba dan penjualan, namun juga harus melibatkan bagaimana mengatur pencapaian, bagaimana untuk memprioritaskan pekerjaan.

Akuntansi jenis ini disebut sebagai Akuntansi Inovasi yang bertujuan untuk memastikan sang Entrepreneur bertanggungjawab secara objektif bahwa mereka sedang bekerja untuk membangun bisnis yang berkelanjutan.

Proses Akuntansi Inovasi dilakukan dalam tiga tahap sebagai berikut:

  1. Menetapkan baseline. Bagi yang tidak tahu baseline adalah dasar dimulainya suatu implementasi dan digunakan untuk menilai kinerja dari suatu aktivitas. Dalam tahap ini anda dapat membuat MVP untuk menilai reaksi awal dan ketertarikan pelanggan terhadap suatu produk atau jasa. Jumlah reaksi  dan ketertarikan pelanggan pada MVP tersebut adalah titik permulaan untuk menilai apakah suatu aktivitas memberikan dampak negatif atau positif terhadap kinerja MVP. Kinerja tersebut dapat berupa jumlah pendaftaran pengguna baru, durasi rata-rata pemakaian pengguna, sampai dengan kepuasaan pelanggan.
  2. Penyetelan mesin. Dalam proses ini, perubahan terhadap MVP mulai dilakukan dan di uji untuk mengetahui apakah perubahan yang dilakukan memberikan dampak negatif atau positif terhadap kinerja MVP.
  3. Pivot/Persevere. Setelah melakukan beberapa perubahan dalam beberapa siklus, maka dapat dilihat apakah anda bergerak dari baseline ketarget ideal yang ditetapkan dalam rencana bisnis. Jika terdapat perbedaan yang signifikan maka mungkin sudah waktunya untuk evaluasi. 

4. Market Validation

Market validation dalam lean startup adalah metode untuk mendapatkan masukan secara langsung dari calon pelanggan mengenai masalah dan titik kesulitan yang mereka hadapi serta mendapatkan ide bagaimana mengembangkan produk atau jasa yang menjadi solusinya. Selain itu, market validation juga berfungsi untuk memastikan apakah solusi yang anda tawarkan sesuai dengan ekspektasi calon pelanggan anda.

Dasar berpikir dari metologi lean startup adalah calon pelanggan anda mengetahui apa yang menjadi masalah mereka dan apa yang perlu cari solusinya. Oleh karena itu daripada anda berspekulasi memikirkan dan membuat sesuatu yang anda harap diinginkan oleh pelanggan anda lebih baik membuat sesuatu yang menyelesaikan permasalahan aktual dari pelanggan anda.

Dalam proses market validation, anda dapat mempelajari bahwa anda  menuju ke jalan dimana anda memecahkan masalah yang sebenarnya tidak dipedulikan oleh pelanggan anda. Dalam hal ini anda harus pivot, mengajukan pertanyaan yang baik, dan mengidentifikasi masalah mereka bersedia untuk membayar. Atau, sebaliknya anda mungkin menemukan pelanggan potensial yang mengatakan, jika anda membuat produk atau jasa seperti itu itu, saya akan membelinya.

Berikut beberapa manfaat dari market validation:

  • Mengetahui titik permasalahan yang sebenarnya dialami pelanggan.
  • Memperjelas target pasar anda.
  • Mengurangi waktu anda dalam mengembangkan produk.
  • Mengurangi risiko dan investasi dengan menghilangkan fitur-fitur yang tidak dibutuhkan.
  • Memberikan kemungkinan bagi anda untuk menjual bahkan sebelum anda selesai membuat produk atau jasa tersebut.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here