Beranda Entrepreneur 6 Kisah Inspiratif Pengusaha Indonesia Sukses Membangun Bisnis Dari Nol

6 Kisah Inspiratif Pengusaha Indonesia Sukses Membangun Bisnis Dari Nol

19273
2
bob sadino, kisah inspiratif pengusaha indonesia sukses, kisah pengusaha indonesia sukses, pengusaha indonesia sukses dari nol
Bob Sadino adalah salah satu tokoh pengusaha sukses indonesia dari nol yang terkenal dan menginspirasi

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah para pengusaha sukses membangun bisnis dari nol. Salah satunya adalah bukti bahwa seseorang bisa menjadi pengusaha sukses walaupun tidak memiliki modal, koneksi dan bahkan pendidikan sarjana. Hal tersebut tentu saja dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk juga berjuang menjadi pengusaha sukses dan membangun bisnis yang besar.

5 kisah inspiratif pengusaha indonesia sukses ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan anda inspirasi yang anda butuhkan, tetapi juga pengingat bagi anda bahwa dengan semangat dan kegigihan suatu hambatan atau kesulitan pasti dapat dilewati. Dimana setelah melewati hambatan dan kesulitan itulah anda akan semakin berkembang dan dapat menjadi seorang pengusaha sukses.

Tanpa berpanjang lebar lebih jauh, berikut 6 kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses yang membangun bisnis dari nol:

 

1. Chairul Tanjung

chairul tanjung, pengusaha indonesia sukses, pengusaha indonesia sukses dari nol, pengusaha sukses dari nol
Chairul Tanjung adalah salah satu tokoh pengusaha sukses indonesia dari nol yang terkenal dan menginspirasi

Chairul Tanjung adalah seorang konglomerat sukses yang mempunyai berbagai perusahaan besar dibawah naungan CT Corp. CT Corp sendiri adalah sebuah holding company yang membawahi perusahaan-perusahaan besar seperti PT Bank Mega Tbk, Mega Finance, Trans TV, Trans7, Trans Studio, Transmart Carrefour, Detik.com, Metro Departement Store dan masih banyak lagi.

Chairul Tanjung sendiri termasuk sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dimana berdasarkan Forbes, Chairul Tanjung mempunyai kekayaan sekitar US$ 4,900,000,000 (empat miliar sembilan ratus juta dolar Amerika Serikat). Kekayaannya yang besar tersebut tidak diperoleh Chairul Tanjung dengan mudah, dia merintis bisnis dari nol sebelum mencapai kesuksesan tersebut. Berikut kisah sukses Chairul Tanjung dalam memulai bisnis dari nol.

Chairul Tanjung lahir di Jakarta pada 16 Juni 1962. Ayahnya, A.G Tanjung adalah seorang wartawan sekaligus penerbit surat kabar lokal yang lumayan sukses. Tetapi karena tulisannya yang sering bersebrangan dengan orde baru, surat kabar ayahnya tersebut dibredel dan terpaksa tutup. Akibatnya ekonomi keluarga Chairul Tanjung pun berubah dari yang sebelumnya cukup berada dan tinggal di rumah yang cukup besar terpaksa pindah ke kontrakan pinggir kota yang sederhana.

Mulai Bisnis Sejak Kuliah

Keadaan ekonomi keluarga yang memburuk tidak membuat Ayah dan Ibunya tidak memperhatikan pendidikan. Ditengah kesulitan ekonomi tersebut, Chairul Tanjung lulus dari SMA Boedi Oetomo dan melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Hidup dengan uang sangat terbatas pada masa kuliah tersebut mendorong Chairul Tanjung untuk berpikir kreatif dan mencari uang sendiri. Chairul Tanjung mulai berbisnis kecil-kecilan dengan menjual buku-buku di kampusnya. Tidak puas dengan itu dia juga menerima order fotokopi untuk buku-buku kuliah dan materi kuliah dengan bantuan kenalannya yang mempunyai percetakan kecil-kecilan. Dia juga kemudian membuka usaha fotokopi di ruang kosong dibawah tangga kampusnya, walaupun dia tidak memiliki uang untuk membeli mesin fotokopi dia menemukan solusi melalui kemitraan dengan orang lain.

 

Serius Berbisnis

Lulus dari kuliah, Chairul Tanjung merasa bahwa dirinya lebih terpanggil untuk berbisnis dibandingkan berpraktik menjadi dokter gigi. Perjalanan bisnisnya setelah lulus kuliah tidaklah selalu mulus, percobaan pertamanya berbisnis alat kedokteran berakhir dengan kebangkrutan.

Tidak patah semangat, Chairul Tanjung terjun ke bisnis kontraktor dan mengerjakan berbagai proyek konstruksi termasuk salah satunya pembuatan pabrik/workshop peralatan berbahan dasar rotan. Tapi ditengah jalan proyek pembuatan pabrik tersebut mangkrak karena sang pemilik proyek mengalami kesulitan keuangan. Mangkraknya proyek tersebut berpengaruh besar terhadap kondisi keuangan dia, dan pada saat itu dia sudah kehabisan uang.

Namun, dibalik kegagalan tersebut rupanya tidak lama kemudian muncul sebuah kesempatan yang tidak diduga-duga oleh Chairul Tanjung. Dengan bermodalkan gedung pabrik yang mangkrak tersebut, Chairul Tanjung dan beberapa temannya meminjam uang ke Bank Exim sebesar Rp 150 juta untuk membuat pabrik sepatu.

Tetapi kemudian lagi-lagi nasib memberikan cobaan bagi Chairul Tanjung. Setelah pabrik selesai dan sampel produksi dikirimkan kepada beberapa calon pembeli, perusahaannya tidak mendapatkan satupun order. Ditengah kesulitan tersebut mereka tidak menyerah dan tetap berjuang, sampai akhirnya berkat usahanya tersebut mereka berhasil mendapatkan order dan dalam beberapa tahun mereka sudah bisa melayani pasar ekspor. Tetapi kemudian disaat pabrik sepatu itu tengah menikmati masa-masa suksesnya, Chairul Tanjung memiliki perbedaan pandangan dalam masalah bisnis dengan pemilik lainnya dan diapun memutuskan untuk keluar dan merintis bisnisnya sendiri.

Konglomerasi Chairul Tanjung

Keluar dari bisnis sepatu tersebut, Chairul Tanjung kemudian mendirikan Para Group pada tahun 1987. Pada tahun 1996 Para Group mengambilalih Bank Karman yang kemudian diganti namanya menjadi Bank Mega. Dibawah naungan Para Group, Bank Mega bisa bertahan dari krisis moneter tahun 1998 dan pada tahun 2001 Bank Mega melakukan penawaran publik perdana (IPO) dan menjadi perusahaan terbuka.

Pada tahun yang sama anak usaha Para Group yaitu Trans TV mulai mengudara di Indonesia, dan anak usahanya yang lain membuka Bandung Supermall dilahan seluar 3 hektar. Tidak berhenti dengan memulai dua usaha baru tersebut, pada tahun yang sama juga Para Group mengakuisisi Bank Tugu dan menggantinya namanya menjadi Bank Mega Syariah.

Chairul Tanjung terus mengembangkan Para Group menjadi salah satu konglomerasi yang mempunyai anak usaha mulai dari perbankan, asuransi, retail, property, media dan masih banyak lagi. Pada tahun 2011, Para Group berganti nama menjadi CT Corpora dan mengakusisi salah satu portal media online terbesar yaitu Detik.com.

Dengan kisahnya tersebut tentu pantas jika Chairul Tanjung disebutkan dalam daftar 5 kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses ini.

 

2. Ciputra

pengusaha indonesia sukses dari nol, ciputra, kisah inspiratif pengusaha sukses,
image credit : raywhitesquare.com

Nama Ciputra sebagai salah satu pengusaha properti tersukses di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pada tahun 2016, Forbes memperkirakan kekayaan Ciputra mencapai US$ 1,600,000,000 (satu miliar enam ratus juta dolar Amerika Serikat)  dan menduduki urutan ke 23 di daftar orang terkaya Indonesia.

Kesuksesan Ciputra tersebut tidaklah dia capai dengan mudah, dia adalah salah satu contoh kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses yang memulai benar-benar dari nol. Ciputra lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah. Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sepeninggal ayahnya tersebut Ciputra harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah.

Kesulitan ekonomi dan tanjung jawab untuk turut membantu keluarga tidak membuat semangat Ciputra dalam menuntut ilmu hilang. Walaupun mengalami keterlambatan dengan kegigihan dan ketekunannya, Ciputra berhasil masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Arsitektur. Di masa akhir kuliah tersebut Ciputra bersama kedua orang temannya mendirikan PT Daya Cipta yang bergerak di bidang konsultasi arsitektur.

Lulus dari ITB, Ciputra kemudian bersama dengan rekannya pindah ke Jakarta untuk mencari proyek yang lebih besar. Ciputra saat itu membidik proyek-proyek dari pemerintah DKI Jakarta, salah satunya adalah pembangunan pusat berbelanjaan di daerah Senen. Walaupun saat itu Ciputra tidak memiliki modal berupa uang, dengan gigih Ciputra menemui gubernur DKI Jakarta saat itu Dr. R Soemarno dan mengajakan Pemda DKI Jakarta mendirikan Perusahaan Patungan/Joint Venture untuk meremajakan kota Jakarta.

Pada saat itu Dr. R Soemarno mempertanyakan, kamu modalnya dari mana? Ciputra menjawab, saya sudah bicarakan dengan investor lain yang mempunyai banyak uang. Dari situlah kemudian dengan kerjasama antara Ciputra dan rekan-rekannya serta Pemda DKI Jakarta berdirilah PT Pembangunan Jaya. PT Pembangunan Jaya dimulai dengan sederhana, kantornya menumpang di salah satu ruangan kantor Pemda DKI Jakarta dengan karyawan berjumlah 5 orang.

Namun dengan kerja kerasnya mereka sukses mengerjakan pembangunan pusat perbelanjaan di Senen. Dari kesuksesan tersebut, PT Pembangunan Jaya menangani berbagai proyek-proyek besar seperti Taman Impian Jaya Ancol yang menyulap kawasan rawa menjadi pusat rekreasi terbesar di Indonesia dan kota mandiri Bintaro Jaya.
Kesuksesannya di PT Pembangunan Jaya tersebut di kembangkan lebih jauh lagi oleh Ciputra dengan mendirikan dan menjadi pemegang saham dari Metropolitan Group,  Pondok Indah Group, Bumi Serpong Damai Group dan Ciputra Group.

Walaupun sudah sukses, Ciputra tidak pernah melupakan asalnya yang sederhana tersebut. Ciputra adalah salah satu pengusaha sukses Indonesia yang gemar beramal dan melakukan kegiatan sosial dari berbagai Yayasan yang didirikannya bersama dengan rekannya, seperti Yayasan Do Bosco, Yayasan Prasetya Mulya, Yayasan Ir. Ciputra, Yayasan Tarumanegara dan lainnya. Dengan awalnya yang sederhana tersebut dan kesuksesannya dimasa sekarang maka jelas bahwa Ciputra layak masuk dalam daftar kisah inspiratif pengusaha sukses Indonesia yang memulai bisnis dari nol ini.

 

3. Bob Sadino

pengusaha indonesia sukses dari nol, bob sadino, kisah inspiratif pengusaha indonesia sukses,
Bob Sadino adalah salah satu tokoh pengusaha sukses indonesia dari nol yang terkenal dan menginspirasi

Almarhum Bob Sadino adalah sosok pengusaha yang nyetrik tetapi penuh inspirasi dengan”seragam” celana pendek dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100.

Sewaktu orangtuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh harta keluarganya karena semua saudara kandungnya dapat dianggap mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.

Bob Sadino sempat bekerja di Unilever  namun, bosan dengan hidup tanpa tantangan dia kemudian memutuskan keluar. Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Satu mobil Mercedes yang tersisa modal oleh Bob menjalani profesi sebagai supir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.

Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras. “Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras,” ujar istrinya saat itu.

Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.

Bob Sadino pun sempat depresi, tetapi dia belum menyerah. Baginya, menyerah berarti sebuah kegagalan. Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk menghilangkan streess dan melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat.

Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob memiliki usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. “Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kemstick tidak akan pernah ada,” ujar Bob. Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.

 

4. Mohammad Baedowy

pengusaha indonesia sukses dari nol, mohammad baedowy, kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses, kisah pengusaha indonesia sukses
image credit : vleopos.blogspot.co.id

Mohammad Baedowy adalah seorang pengusaha limbah plastik yang sukses meraih milyaran rupiah pertahun dari bisnis yang bagi kebanyakan orang dipandang sebelah mata. Diluar dari keberhasilan yang diukur dari besarnya pundi-pundi rupiah yang dihasilkan, Baedowy juga adalah contoh sosok pengusaha yang mendapatkan banyak penghargaan dari hasil kerjanya. Baedowy adalah penerima penghargaan pemuda pelopor tingkat nasional 2006, tokoh pengusaha muda terbaik pilihan majalah Tempo, Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance, piagam penghargaan Kalpataru 2010, dan juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards.

Kesuksesannya tersebut tidak diraih dengan mudah oleh Baedowy. Dirinya harus berjuang dalam mencapai kesuksesan tersebut, kisahnya dalam merintis bisnis adalah salah satu contoh kisah inspiratif pengusaha Indonesia yang sukses membangun bisnis dari nol. Sebelum memulai bisnis, Baedowy sebenarnya mempunyai pekerjaan yang mapan dan cukup mentereng. Dirinya adalah seorang auditor di Royal Bank of Scotland dan berkantor dikawasan elite Jakarta.

Walaupun mempunyai pekerjaan yang cukup mapan tersebut, Baedowy mempunyai tekad untuk berwirausaha yang lebih kuat sehingga dia hanya bertahan 3 tahun bekerja di Royal Bank of Scotland sebelum keluar. Setelah tidak lagi menjadi seorang pegawai, Baedowy mencoba berbisnis ternak jangkrik dengan merombak salah satu kamar dirumahnya. Namun sayang pada percobaan pertamanya tersebut ternak jangkriknya bukannya bertambah tetapi justru semakin susut dan menemui kegagalan.

Bingung mencari bisnis yang cocok, pada suatu hari Baedowy bertemu dengan seorang pengusaha yang cukup sukses. Walaupun pengusaha tersebut hanya lulusan SD dia bisa mempunyai rumah, tempat usaha, serta dua buah mobil. Setelah mengetahui bahwa pengusaha tersebut melakoni bisnis sampah, Baedowy merasa tertarik dan belajar dari pengusaha tersebut. Pengusaha tersebut menjelaskan bahwa bisnis sampah berbeda dengan bisnis makanan yang punya risiko basi atau bisnis ternak yang mempunyai risiko mati, bisnis sampah tidak punya risiko tersebut yang dibutuhkan adalah kerja keras dan semangat.

Setelah belajar proses bisnis dari pengusaha tersebut, Baedowy memberanikan keluar untuk memulai usaha penggilingan sampah plastiknya sendiri. Dengan menyewa sebuah lahan untuk tempat pengolahan diapun memberanikan diri membeli mesin pencacah plastik bekas. Tetapi jalannya tidaklah mulus, mesin yang dibelinya tersebut hanya tahan sebentar saja dan kemudian rusak. Penjual mesin tersebut tidak bisa membetulkannya dan pengempul lain tidak mau mengajarkan bagaimana cara memperbaiki mesin tersebut. Baedowy memutuskan untuk mencoba membetulkan mesin itu sendiri selama setahun.

Setahun setelah memulai bisnis sampah tersebut, Baedowy mengalami kesulitan keuangan dan hampir bangkrut. Masalah mesin pencacahnya yang sering ngadat tersebut membuatnya sering tidak dapat berproduksi dan rugi. Dia pun terpaksa mengirim pulang istri dan 2 anaknya ke kampung halamannya untuk menghemat pengeluaran. Kehabisan uang dan diminta oleh mertua untuk berhenti saja membuat Baedowy sempat berusaha menjual pabriknya. Selama ditawarkan, tak ada yang mau membeli pabrik Baedowy. Baedowy juga sudah berancang-ancang untuk melamar pekerjaan.

Pada saat uangnya semakin tipis itu, Baedowy yang kebetulan aktif di sebuah pesantren di Bekasi Timur didatangi seorang kiai yang meminta bantuan dana karena harus ada peletakan batu pertama pembangunan pesantren dan akan dihadiri wali kota. “Saya tahu mereka butuh banget uang untuk membeli semen atau batu. Akhirnya saya kasihkan sisa uang yang ada, walaupun tidak semua,” ujarnya.

Namun, akhirnya dia menyadari bahwa efek sedekah itu luar biasa. Dia lantas meneruskan bisnis itu dengan modal mobil pick-up. Baedowy kembali belajar kepada pengepul besar. Tidak lama kemudian pun, Baedowy yang merupakan sarjana ekonomi dan tidak mempunyai berbekal ilmu teknik ini akhirnya berhasil memperbaiki mesin pencacah plastiknya dengan membuat desainnya sendiri.

Kini Baedowy bukan sekadar menjadi penadah, tetapi juga pembuat mesin dan menjualnya kepada mitra. Mekanismenya mirip franchise. Sebab, selain diberi pelatihan setelah membeli mesin darinya, hasil penggilingan mitra bisnis juga ditampung.

Seakan tak ingin sukses sendirian, ia mengakomodasi permintaan masyarakat yang juga ingin sukses seperti dirinya. Jaringan mitra kerja yang ia bentuk sudah menyebar dari Aceh hingga Papua.

Kepada mitra, peraih Soegeng Sarjadi Award on Good Governance 2010 ini menjual tiga jenis mesin penggiling. Harga tiap mesin berkisar Rp33 juta hingga Rp47 juta. Mitra Baedowy saat ini sudah lebih dari 100. Mereka tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, sampai ke Aceh. Bijih plastik hasil olahannya diekspor, terutama ke Tiongkok.

 

5. Elang Gumilang

elang gumilang, pengusaha muda sukses indonesia, kisah inspiratif pengusaha indonesia sukses, pengusaha indonesia sukses dari nol
image credit : the-mni.com

Elang Gumilang adalah seorang pengusaha properti kelahiran Bogor 6 April 1985 (31 tahun) yang kisah hidupnya merupakan contoh dari kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses membangun bisnis dari nol. Elang Gumilang telah menjadi seorang pengusaha sukses dari usia sekolah, saat duduk di bangku SMA kelas 3 dirinya mempunyai target untuk menghasilkan 10 juta rupiah untuk membiayai sendiri kuliahnya. Dengan bekal semangat tersebut, Elang mulai menjajakan donat ke sekolah-sekolah dan meraih keuntungan yang lumayan dari usaha tersebut. Namun, kedua orang tuanya kemudian mengetahuinya dan memaksanya untuk berhenti berjualan donat karena UN yang sudah dekat.

Lulus dari UN dan tamat SMA, Elang berhasil masuk ke Fakultas Ekonomi IPB tanpa tes. Memasuki kuliah semangat wirausaha Elang muncul lagi dengan bermodal uang sejuta ia kembali berniat untuk bisnis. Awalnya ia berjualan sepatu dan mampu menangguk untung 3 juta, kemudian berganti menyuplai lampu neon fakultas. Bermodal surat dari kampus, ia melobi perusahaan lampu Philips untuk mensuplai lampu neon di kampusnya. “Alhamdulillah untuk setiap pembelian saya untung 15 juta rupiah,” ucapnya bangga. Namun bisnis lampu perputarannya uangnya sangat lambat, Elang kemudian beralih ke bisnis minyak goreng yang mempunyai perputaran cepat.

Bisnis minyak goreng yang ditekuninya memang mempunyai perputaran cepat namun menggunakan tenaga dan waktu yang tidak sedikit sehingga mengganggu kuliah. Akhirnya Elang berhenti dari bisnis minyak goreng. Ia kemudian memikirkan bisnis yang tak menggunakan otot. Ia bertukar pikiran dengan dosen dan beberapa pengusaha lokal. Alhasil tercetuslah bisnis lembaga kursus bahasa Inggris di kampusnya. Elang menggunakan tenaga pengajar langsung dari luar negeri sehingga kampus mempercayakan lembaga milik Elang tersebut sebagai mitra. Karena bisnis kursus ini tak menggunakan otot, Elang kemudian menggunakan waktu luangnya untuk menjadi pemasar perumahan.

Dengan keberhasilan bisnis-bisnis sebelumnya tersebut, Elang sudah mempunyai hidup yang berkecukupan sebelum terjun ke bisnis properti.  Dia sudah punya mobil dan rumah sendiri padahal masih kuliah semester 6 tetapi Elang merasa ada yang kurang. Setelah melewati masa pencarian jawaban tersebut, Elang Gumilang pun terjun ke bisnis properti yang fokus kepada masyarakat berpenghasilan rendah seperti pedagang, buruh, dan masyarakat yang tidak mempunyai akses perbankan.

Modal pertamanya sebesar Rp 340 juta. Hasil meminjam dari kerabat, teman dan dosen. Dengan uang sejumlah itu, Elang bisa membangun hunian tempat berlindung para pedagang, rekan mahasiswa maupun masyarakat lain yang tak memiliki akses perbankan. Harga rumah yang dijualnya saat itu, sekitar Rp 22 juta-Rp 40 juta per unit. Uang muka yang dikenakan hanya Rp 1,2 juta dengan cicilan per bulan sekitar Rp 89 ribu. Jumlah nilai yang saat ini tak ada artinya. Di saat pengembang lain berjibaku meraup marjin keuntungan maksimal, Elang justru berlaku sebaliknya.

Sukses penjualan Gemilang Property Griya Salak Endah I menyisakan kisah serupa pada sejumlah portofolio berikutnya. Hingga enam tahun usia bisnisnya di sektor properti, Elang telah mengembangkan tiga belas (13) perumahan. Di antaranya Gemilang Property Griya Salak Endah I-III, Gemilang Property Griya PGRI Ciampea Endah, Gemilang Property Citayam, Gemilang Property Cilebut, Gemilang Property Lido dan yang teranyar di kawasan Cifor, Bogor Barat. Kisaran harga mulai dari Rp 88 juta-Rp 1 miliar. Dari rentang harga ini dapat diambil kesimpulan bahwa semua kelas memberikan kesempatan kepadanya untuk berkembang.

Saat ini Elang Gumilang telah mempunyai bisnis dengan omzet sebesar Rp55-56 triliun dan meraih berbagai penghargaan yang bergengsi. Elang Group yang fokus kepada properti untuk masyarakat berpenghasilan rendah pun telah melebarkan sayap usahanya ke bisnis properti komersial. Dari kisah hidupnya tersebut tidak berlebihan jika Elang Gumilang masuk dalam daftar kisah inspiratif pengusaha Indonesia sukses membangun bisnis dari nol.

 

6. Yasa Singgih – Pengusaha Muda Sukses Dari Nol

yasa singgih pengusaha muda sukses, pengusaha indonesia sukses dari nol
yasa singgih pendiri men’s republic

Yasa Singgih adalah seorang pengusaha Indonesia yang sukses memulai bisnis dari nol dengan bisnis fashion pria dan membesarkan merek Men’s Republic. Walaupun masih berusia 23 tahun, Yasa Singgih telah menjadi pengusaha yang sukses dengan penghasilan miliaran rupiah.

Perjuangan Yasa Singgih untuk menjadi pengusaha dimulai sejak kelas 3 SMP setelah ayahnya menderita sakit jantung. Yasa Singgih mencari uang dengan bekerja sebagai MC di berbagai acara karena tidak ingin menjadi beban keluarga.

Memasuki masa SMA, Yasa Singgih terjun ke dalam bisnis fashion. Dia memulainya dengan memesan kaos kepada ayah temannya yang mempunyai bisnis konveksi. Karena dia tidak bisa membuat desain Yasa belajar kepada temannya selama 7 hari. Hasilnya tidak begitu baik dan karena kepepet Yasa memutuskan menggunakan Microsoft Word untuk mendesain kaos pertamanya yang bergambar Soekarno.

Pertama kali berjualan Yasa mengalami kesulitan untuk menjual kaos tersebut. Setelah 2 minggu kaosnya hanya laku 2 buah saja, dan satu buah kaos itupun dibeli neneknya yang kasihan dengannya. Tidak gentar dengan kegagalan pertama tersebut. Yasa nekat membeli kaos secara grosir dari pasar Tanah Abang dan menghabiskan 4 juta untuk modal.

Karena kepepet dan tidak kenal menyerah lambat laun kaosnya mulai laku dan sempat mengalami masa panen dalam bisnis kaosnya. Yasa kemudian mencoba peruntungan di usaha kuliner dengan membuka kafe yang diberi nama “Ini Teh Kopi”. Namun karena perhitungan yang tidak matang bisnisnya bangkrut dan menanggung kerugian ratusan juta.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya kapok. Yasa memulai kembali bisnisnya dari nol saat usianya baru 19 tahun. Melihat peluang yang sangat besar di usaha fashion. Yasa memilih untuk membangun merk fashion pria dengan nama Mens Republic. Modalnya Yasa adalah dengkul untuk mencari mitra yang mau memberinya barang untuk dititip jual.

Saat ini Men’s Republic telah menjadi bisnis dengan omset miliaran rupiah dan sanggup menjual ribuan sepatu perbulan. Selain itu Yasa Singgih juga memperoleh berbagai penghargaan bergensi seperti juara 1 Wirausaha Muda Mandiri, Youth Marketeers of the Year Award 2016, dan Forbes 30 Under 30.

 

Penutup

Setiap kisah inspiratif pengusaha indonesia yang sukses tersebut dimulai dari awal yang sederhana dan kecil. Mereka tidak memulai dengan hal-hal yang besar, tetapi mereka melangkah sedikit demi sedikit dan terus bertumbuh.

Begitu juga dengan anda jika ingin menjadi pengusaha sukses tidak perlu menunggu untuk mempunyai modal besar. Modal besar justru dapat menjadi senjata makan tuan jika tidak dapat digunakan dengan benar.

Yang paling utama adalah segera mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha dan menentukan apa ide bisnis yang akan anda jalankan.

Bagaimana menurut anda? apa yang menghalangi anda menjadi seorang pengusaha?
Terkait : 50 Ide Usaha Rumahan Yang Menjanjikan dan Menguntungkan

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here