Beranda Entrepreneur Kisah Sukses Nadiem Makarim Sosok Pendiri Go-Jek

Kisah Sukses Nadiem Makarim Sosok Pendiri Go-Jek

1684
0
kisah sukses nadiem makarim
kisah sukses nadiem makarim sosok pendiri gojek

Pada Agustus 2016, Go-Jek telah mencatatkan sejarah dengan menjadi penyandang status unicorn pertama yang resmi di Indonesia setelah mendapatkan pendanaan raksasa sebesar US$ 550 jutaPencapaian tersebut tidak hanya menandai babak baru Go-Jek tetapi juga menjadi bagian penting dalam kisah sukses Nadiem Makarim yang menjadi pendiri Go-Jek.

Dengan pendanaan tersebut Go-Jek ditaksir mempunyai nilai perusahaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 15,6 trilliun. Dimana status unicorn diberikan untuk startup dengan nilai perusahaan lebih dari US$ 1 milyar atau sekitar Rp. 13 trilliun.

Sebuah pencapaian yang luar biasa jika mengingat valuasi tersebut diperoleh hanya dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun sejak peluncuran aplikasi Go-Jek. Lebih luar biasa lagi jika mengingat nilai pasar PT Garuda Indonesia Tbk pada saat tulisan ini dibuat hanya sekitar Rp 8,8 trilliun.

Dibalik pencapaian Go-Jek tersebut terdapat sosok Nadiem Makarim sang pendiri yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Go-Jek menjadi unicorn pertama Indonesia. Oleh karena itu, untuk mendapatkan inspirasi dan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai Go-Jek akan lebih baik jika mengetahui bagaimana kisah sukses Nadiem Makarim dalam mendirikan Go-Jek secara lebih rinci.

 

Awal Mula Kisah Sukses Nadiem Makarim

Nadiem Makarim lahir pada tanggal 4 Juli 1984 di Singapura dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadrie. Ayah Nadiem adalah seorang pengacara yang cukup terpandang dan mempunyai reputasi.

Nadiem Makarim sempat bersekolah di Jakarta tetapi pada saat SMA Nadiem sekolah di Singapura. Lulus dari SMA, Nadiem kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan international relation di Brown University Amerika Serikat.

Setelah lulus dari Brown University, Nadiem bergabung dengan McKinsey & Co perusahaan riset dan konsultasi global yang terkemuka. Nadiem bekerja di McKinsey & Co selama sekitar tiga tahun. Selain itu, Nadiem juga melakukan beberapa pekerjaan untuk BUMN, salah satunya inisiatif yang disebut Young Leaders for Indonesia. Inisiatif tersebut adalah program untuk mempersiapkan mahasiswa tahun ketiga di Indonesia untuk memasuki dunia kerja. Nadiem menyebutkan bahwa keterlibatannya dalam inisiatif tersebut sebagai salah satu alasan utama ia bisa masuk ke program Master of Business Administration (MBA) Harvard Business School yang bergensi itu pada tahun 2009.

 

Kelahiran Go-Jek

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk kuliah di Harvard, Nadiem mempunyai sebuah gagasan yang tidak bisa ia abaikan. Nadiem dalam kesehariannya terbiasa menggunakan ojek untuk menembus kemacetan di Jakarta. Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem akhirnya menjadi sering ngobrol dengan tukang ojek langganannya. Dari hasil obrolan dan pengamatannya, Nadiem mendapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.

Berawal dari masalah tukang ojek yang waktunya kebanyakan dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang serta kebutuhan masyarakat untuk transportasi yang bisa menembus kemacetan itulah Nadiem mendapat ide untuk membuat call center ojek. Idenya adalah call center ojek tersebut dapat digunakan oleh calon penumpang untuk meminta ojek menjemut mereka dan mengantar kemana yang mereka mau.

“Saya mulai Go-Jek dari sebuah call center, dan merekrut 20 driver pertama. Kemudian Mereka (driver) menjadi perekrut, . “Saya mulai melakukan pemasaran untuk teman-teman dan keluarga, dan Go-jek saat itu hanya tumbuh sendiri, secara organik dan sangat lambat.”

Setelah itu Nadiem harus meninggalkan Jakarta untuk kuliah Master of Business Administration di Harvard Business School. Selama meninggalkan Indonesia, Nadiem menyerahkan operasional Go-Jek di bawah kepemimpinan paruh waktu co-founder Jurist Tan dan Brian Cu.

Selama bersekolah di Harvard Business School, Nadiem berteman dengan saingannya di masa depan, Anthony Tan sang pendiri Grab. Nadiem dan Anthony sering berkonsultasi satu dengan lainnya sebelum akhirnya menjadi saingan dalam bisnis.

 

Bergabung Dengan Rocket Internet

By Rocket Internet [Public domain], via Wikimedia Commons
Tidak lama setelah lulus dari Harvard Business School pada tahun 2011, Nadiem bergabung dengan Rocket Internet, perusahaan Jerman yang mempunyai spesialisasi mendirikan dan mengembangkan startup digital di seluruh dunia. Oliver Sawyer CEO dari Rocket Internet mengajak Nadiem untuk membantu merintis Zalora Indonesia.

Di Zalora Indonesia, Nadiem sebagai Managing Director diberikan pendanaan yang besar dari Rocket Internet untuk mengembangkan Zalora. Disinilah Nadiem belajar berbagai aspek penting dalam mengembangkan perusahaan startup.

Nadiem hanya bertahan setahun di Zalora Indonesia, hal ini karena kondisi kerja di Rocket Internet yang kurang kondusif dimana seperti kebanyakan pegawai Rocket Internet Nadiem memutuskan keluar dari Rocket Internet dan mencoba hal yang lain.

Kembali Ke Go-Jek

sejarah go-jek, kisah go-jek
kelahiran go-jek

Saat Nadiem Makarim masih kuliah di Harvard Business School tahun 2010, Uber yang merupakan pioneer startup on-demand dan ride sharing diluncurkan di San Fransisco. Kesuksesan Uber menjadi pemicu gelombang kemunculan berbagai startup on demand dan ride sharing lainnya.

Trend tersebut juga diperkuat dengan minat investor untuk menanamkan modal di bisnis yang mirip dengan Uber. Pada tahun 2014, Nadiem Makarim mulai mencari investor untuk mengembangkan Go-Jek ketingkat yang lebih tinggi dan akhirnya berhasil menarik NSI Venture untuk berinvestasi di Go-Jek.

Dengan modal tambahan tersebut, Nadiem melakukan perubahan di internal Go-Jek, mulai mengembangkan aplikasi untuk smartphone dan menambah jumlah driver. Aplikasi Go-Jek sendiri selesai pada akhir tahun 2014 dan diluncurkan pada awal 2015.

Peluncuran aplikasi tersebut menandai awal dari pertumbuhan luar biasa Go-Jek. Pada Juli 2015, aplikasi Go-Jek telah didownload lebih dari 700.000 kali. Dalam bulan Agustus 2015 jumlah download melesat menjadi 3,7 juta dan pada akhir tahun total jumlah download Go-Jek telah menembus angka 10 juta.

Dengan aplikasi Go-Jek tersebut, Nadiem merubah reputasi ojek yang sebelumnya tidak aman, penentuan harga yang tidak jelas, tidak dapat diandalkan dan driver yang tidak professional menjadi jauh lebih baik dengan penentuan harga yang transparan, jauh lebih mudah didapatkan, praktis dan lebih professional. Perubahan reputasi ojek dengan menggunakan sistem online tersebut membuka peluang pasar baru dimana jika sebelumnya hanya kalangan tertentu saja yang nyaman untuk menggunakan jasa ojek sekarang hampir semua kalangan lebih nyaman untuk menggunakan jasa ojek.

Perubahan reputasi tersebut menjadi salah satu bagian dari kisah sukses Nadiem Makarim tidak hanya dalam ranah Go-Jek tetapi juga dalam lingkup kehidupan bermasyarakat karena Nadiem telah berhasil meningkatkan mobilitas masyarakat dengan biaya yang murah sekaligus juga membuka peluang baru bagi masyarakat.

Saat ini aplikasi Go-Jek yang tidak hanya menawarkan solusi untuk mobilitas masyarakat berupa transportasi angkutan orang tetapi juga untuk makanan, pengangkutan barang, hiburan, cleaning service sampai cara pembayaran.

Dengan peningkatan pesat dan beragamnya penawaran Go-Jek tersebut, Go-Jek telah berkembang dari 20 driver menjadi lebih dari 200.000 driver yang tersebar di 10 kota besar di Indonesia dan melayani lebih dari 20 juta pesanan pada Juni 2016.

 

Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Kisah Sukses Nadiem Makarim

Untuk menutup artikel ‘Kisah Sukses Nadiem Makarim Pendiri Go-Jek’ ini kami menilai bahwa bagi seorang entrepreneur terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil sebagai berikut:

 

1. Temukan Permasalahan Yang Besar dan Pikirkan Solusinya

Kisah sukses Nadiem Makarim dalam meraih pencapaian tersebut dalam waktu yang relatif singkat didorong oleh besarnya masalah terkait dengan kemacetan Jakarta dan rendahnya mobilitas di kota besar Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Selain itu dapat Nadiem juga menawarkan solusi bagi masalah sulit yang lain yaitu bagaimana caranya agar tukang ojek yang sebenarnya sangat membantu mobilitas di Jakarta tidak menghabiskan kebanyakan waktu untuk menunggu penumpang.

Kedua masalah yang sulit untuk diselesaikan tersebut menjadi celah dimana Nadiem berhasil menjadi pemberi solusi yang pertama bergerak menawarkan solusi tersebut ke pasar.

 

2. Berawal Dari Hal Yang Kecil

Nadiem Makarim tidak memulai Go-Jek dengan dana yang besar dan teknologi yang cangih. Dia memulai dengan membuat call center ojek yang hanya mempunyai 20 orang karyawan dan driver. Pemprosesan order pun dilakukan secara manual dengan menelpon pemesan dan ojek.

Walaupun dimulai secara kecil, Go-Jek yang dirintis secara sederhana oleh Nadiem pada tahun 2010 tersebut dapat bertahan dan menjadi pondasi untuk kemudian dapat menarik perhatian investor menanamkan modalnya.

 

3. Berani Mengambil Risiko dan Bergerak Cepat

Salah satu kunci keberhasilan Go-Jek adalah bergerak cepat sebelum kompetitor masuk kedalam pasar yang dibuka oleh Go-Jek. Hal ini dilakukan dengan mengambil risiko besar dimana Go-Jek memberikan subsidi dalam jumlah yang besar dan terus memberikan inovasi-inovasi baru seperti perkenalan Go-Food, Go-Clean, Go-Send dan lainnya.

Selain itu dari sisi pribadi Nadiem Makarim, kesuksesan Go-Jek tidak terlepas dari keberanian Nadiem Makarim menjadikan Go-Jek sebagai pekerjaan full timenya walaupun dirinya mengetahui 1 dari 10 startup berakhir dengan kegagalan.

Sebagai penutup, selain ketiga pembelajaran tersebut, menurut anda apa kunci kisah sukses Nadiem Makarim dalam mendirikan Go-Jek? Apakah anda terinspirasi dengan kisah sukses Nadiem Makarim? Jangan sungkan untuk memberikan komentar anda di bagian dibawah ini.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya : 7 Kisah Sukses Pendiri Startup Indonesia Yang Inspiratif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here