Beranda Startup 5 Alasan Utama Startup Gagal Dalam 20 Bulan

5 Alasan Utama Startup Gagal Dalam 20 Bulan

38
0

Tidak ada pendiri yang ingin startup yang dirintisnya berakhir dengan kegagalan. Mengetahui alasan utama mengapa startup mengalami kegagalan menjadi penting karena dengan mengetahui apa hambatan utama yang menjadi sumber kegagalan dan mencoba mencari solusinya secepat mungkin akan sangat penting untuk mewujudkan kesuksesan startup anda.

Terkait : Startup Indonesia Yang Sukses dan Inovatif

Kapan Startup Menemui Kegagalan

Menurut penelitian CB Insight terhadap kegagalan 253 startup, 70 persen startup gagal dalam 20 bulan setelah mendapatkan pendanaan pertama mereka. Perlu anda ketahui bahwa startup yang dipelajari oleh CB Insight merupakan startup yang telah mendapatkan pendanaan dari Venture Capital atau Angel Investor. Secara statistik mereka termasuk startup yang mendapatkan dukungan dana yang “cukup” dibandingkan startup yang didanai secara bootstrap.

 

Alasan Utama Startup Gagal

Penelitian CB Insight dilakukan dengan mempelajari catatan para pendiri startup pasca penutupan startup mereka. Dalam catatan para pendiri startup tersebut disebutkan beberapa alasan utama mengapa startup yang mereka rintis berakhir dengan kegagalan, karena satu startup dapat mempunyai beberapa alasan kegagalan maka anda akan melihat bahwa persentase yang ada tidak sama dengan 100%.

Dengan mengingat hal tersebut berikut 5 alasan utama startup gagal:

5. Masalah Biaya / Penentuan Harga – 18%

Menentukan harga yang tepat untuk sebuah produk dari startup bukanlah hal yang mudah. Masalah penentuan harga menjadi sangat penting dalam keberlangsungan sebuah startup.

Dimana menentukan harga yang tinggi berarti pelanggan yang lebih sedikit dan ekspektasi mereka yang juga tinggi. Sebaliknya, menentukan harga yang terlalu rendah berarti pendapatan yang tidak cukup untuk menutup biaya yang ada, dan pertumbuhan pelanggan berarti semakin cepat habisnya modal startup tersebut. Tidak heran jika masalah biaya dan harga tersebut menjadi salah satu alasan utama startup gagal dalam usahanya.

Masalah ini ditulis oleh catatan tim Happy Home sebagai berikut:

Happy Home mendapatkan seed funding tahun lalu (investor antara lain Lowercase capital, SV Angel dan Box Group), namun Ludlow mengatakan kepada saya startupnya tidak dapat meraih pendanaan Seri A. Masasalahnya, menurut dia, pelanggan dalam bidang perbaikan rumah rupanya lebih sensitif terhadap harga dari yang dia perkirakan, sementara itu margin keuntungan tetap rendah dan bisnis berulang merupakan suatu tantangan.

 

4. Kalah Bersaing – 19%

Sukses gagalnya startup sedikit banyak bergantung kepada bagaimana startup tersebut mampu bersaingan dengan startup lain di bidang yang sama. Tidak peduli produk anda sebagus dan semurah apa, jika terdapat banyak pemain lain yang tidak kalah bagus dan murah maka anda akan sangat rentan untuk mengalami kegagalan. Terutama dipasar yang penuh dengan persaingan, startup anda akan mudah tenggelam dari startup lain dengan pendanaan lebih besar.

Alasan utama startup gagal ini di sebutkan dalam catatan tim Baroo sebagai berikut:

Meskipun ada upaya Baroo untuk fokus pada penyediaan layanan jalan-jalan anjing dan hewan peliharaan ke gedung penyewaan kelas atas, startup ini menghadapi persaingan tajam dari perusahaan-perusahaan yang didanai dengan baik yang melayani lebih banyak kota.

Wag, misalnya, didirikan pada tahun yang sama dengan Baroo, tetapi telah berkembang menjadi lebih dari 100 kota setelah menaikkan jumlah modal ventura yang sangat tinggi. Beberapa minggu [sebelum Baroo tutup], perusahaan yang berbasis di Los Angeles mengumpulkan $ 300 juta dari raksasa teknologi Jepang SoftBank.”

 

3. Tidak Mempunyai Tim Yang Tepat – 23%

Sebuah tim yang mempunyai keanekaragaman dengan para pendiri yang mempunyai keahlian yang berbeda-beda sering dikutip sebagai sangat penting untuk keberhasilan sebuah perusahaan.

Tanpa tim yang tepat, sebuah startup akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan produknya, melakukan marketing, mengatur keuangan, dan mencari pendanaan yang diperlukan. Dengan banyaknya masalah yang ditimbulkan tim yang salah, tidak heran jika mempunyai tim yang tidak tidak menjadi salah satu alasan utama startup gagal mengembangkan bisnisnya.

Standout Jobs menyebutkan masalah ini dalam catatannya:

… Tim pendiri tidak dapat membangun MVP sendiri. Itu adalah sebuah kesalahan. Jika tim pendiri tidak dapat mengeluarkan produk sendiri (atau dengan sedikit bantuan eksternal dari freelancer) mereka seharusnya tidak mendirikan startup. Kami dapat mendatangkan rekan pendiri tambahan, yang akan dikompensasi terutama dengan ekuitas versus uang tunai, tetapi kami tidak. ”

 

2. Kehabisan Uang Kas – 29 %

Uang kas adalah darah bagi setiap bisnis. Tidak terkecuali bagi startup. Tanpa uang kas dapat dipastikan startup akan bangkrut dan tutup. Pertanyaannya, bagaimana caranya mengatur keuangan suatu startup dengan baik untuk menghindari hal tersebut. Masalah itulah yang sering menjadi sumber kegagalan suatu startup.

Masalah ini disebutkan oleh RewardMe sebagai berikut:

Jangan melakukan scaling sampai Anda siap untuk itu. Uang kas adalah raja, dan Anda perlu memperpanjang landasan pacu Anda selama mungkin sampai Anda menemukan kecocokan pasar produk.”

Baca Juga : 7 Cara Mendapat Modal Untuk Startup

 

1. Tidak Ada Permintaan Pasar – 49%

Tidak ada penyebab kegagalan suatu startup yang lebih besar dari kesalahan menentukan dan mengembangkan produk yang tidak dibutuhkan oleh siapapun, atau mempunyai pasar yang terlalu kecil.

Dengan 49% startup  mengalami kegagalan akibat tidak adanya permintaan pasar, alasan utama startup gagal yang satu ini merupakan suatu peringatan bagi setiap pendiri startup untuk membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, bukannya menyelesaikan masalah yang menarik.

Sebagaimana disebutkan Intronet dalam tulisannya:

Di permukaan, bisnis tidak berhasil dalam dua iterasi pertama dari IntroNet karena alasan yang sama bahwa 90% startup teknologi gagal: kami tidak menemukan kecocokan pasar produk sebelum habisnya uang kas kami. Ini adalah persamaan matematika yang sangat deterministik. Mengapa kami tidak menemukan kecocokan pasar produk? Mungkin kita sedang mencari jalan keluar dari rasa sakit (mis., LinkedIn menyebalkan) daripada masalah nyata (misalnya, saya tidak dapat menemukan keahlian)? Apakah kami mencoba mengubah perilaku pengguna dengan cara yang tidak mudah dikerjakan? Ya, mungkin semua itu.”

Baca Juga : 30 Cara dan Tips Untuk Menjadi Pengusaha Sukses

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here