Terdapat anggapan bahwa sedikit pengusaha muslim yang sukses di Indonesia. Pandangan tersebut tidak benar, terlepas dari dominasi pengusaha non muslim di jajaran 50 orang terkaya di Indonesia. Pengusaha muslim yang sukses di Indonesia juga tidak sedikit, bahkan salah satu dari sosok pendiri startup paling sukses dan inspiratif di Indonesia adalah seorang muslim.
Berikut ini daftar 7 pengusaha muslim yang sukses di Indonesia yang dapat memberikan inspirasi untuk kamu menjadi salah satu pengusaha muslim yang sukses.
Pengusaha Muslim Yang Sukses Di Indonesia
5Arifin Panigoro – Medco Energi
PT Medco Energi Internasional Tbk atau Medco adalah perusahaan minyak, gas dan energi yang beroperasi di Indonesia, Yaman, Tunisia, Libya, Oman, dan Amerika Serikat.
Sebagai pendiri perusahaan migas yang mempunyai kapitalisasi pasar sebesar Rp. 16 triliun pada tahun 2018, Arifin Panigoro termasuk salah satu pengusaha muslim yang sukses di Indonesia. Berdasarkan data JakartaGlobe tahun 2016, Arifin merupakan orang terkaya Indonesia ke 79 dengan kekayaan sebesar USD 475 juta.
Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945 tersebut tidak meraih kesuksesan tersebut dengan mudah. Sebelum sukses Arifin dikabarkan pernah bekerja sebagai teknisi instalator listrik yang rumah ke rumah. Pekerjaan itu dilakukan olehnya untuk menambah uang saku ketika masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selain pernah bekerja sebagai instalator listrik, Arifin pernah bekerja sebagai Senior Executive Programme Institute of Business Administration, Fountainebleau, Perancis tahun 1979.
Dari Pemasangan Pipa Ke Pengeboran Migas
Setelah mendapatkan cukup pengalaman, Arifin kembali ke Indonesia dan memulai usaha baru, yaitu pemasangan pipa proyek. Di situlah akhirnya dia mendapatkan ilham mendirikan Meta Epsi Drilling Pribumi Company alias Medco.
Medco berdiri pada tahun 1980, saat dimana oil boom terjadi dan pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya mengembangkan pengusaha migas lokal. Arifin dan Medco merupakan salah satu bisnis yang didorong dan didukung oleh pemerintah.
Salah satu dukungan tersebut diberikan saat Dirjen Migas Wiharso menginginkan ada pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran gas di Sumatera Selatan oleh Pertamina.
Pemerintah mendorong Medco untuk ikut tender, meskipun saat itu Medco belum punya peralatan atau pengalaman pengeboran. Untuk itu Pemerintah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang diminta untuk menyewakan alat, atau memakai orang-orang Medco sebagai mitra.
Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha lokal. Namun, tanggapan dari perusahaan asing itu membuat Pak Wiharso tersingung dan batal. Lalu Pak Wiharso meminta Arifin menggarap proyek itu sendirian. Arifin sama sekali tidak percaya dengan keputusan itu karena ia tidak memiliki pengalaman melakukan pengeboran.
Pada saat itulah kecapakan bisnis Arifin diuji. Dengan pengalaman dan keahlian Bahasa Inggris yang masih minim Arifin terpaksa bernegosiasi langsung dengan penjual peralatan pengeboran migas di Amerika Serikat.
Kesepakatannya pun buruk karena Arifin harus membayar USD 4 juta untuk peralatan tersebut jika tidak uang muka USD 300 ribu yang sudah dibayar akan hangus. Sedangkan posisi Medco saat itu tidak mempunyai pendanaan sebesar itu.
Arifin kemudian putar otak dan mencoba bertemu Gubernur Bank Indonesia dan Pertamina untuk mendapatkan bantuan pendanaan. Beruntung Medco mendapatkan rekomendasi, dan dana pun cair di ambang batas perjanjian. Proyek pun bisa berjalan sesuai waktu yang ditentukan pemerintah.
Akuisisi Ladang Migas dan IPO
Setelah masa-masa perintisan usaha di tahun 1980-an tersebut, Medco berkembang cukup baik dan mengambil langkah lebih jauh untuk menjadi perusahaan migas besar dengan mengakuisisi Tesoro pada tahun 1992 seharga 13 juta dollar AS. Ladang minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, tersebut mampu berproduksi 4.000 barrel per hari (bph).
Tahun 1994 Medco pun melakukan initial public offering atau IPO di Bursa Efek Indonesia untuk meningkatkan permodalan mereka. Hanya setahun berselang, pada 1995 Medco mencaplok 100% saham PT Stanvac Indonesia milik ExxonMobil dengan harga USD 88 juta.
Kemudian, pada tahun 2004 Medco memperluas kegiatan hulu minyak dan gas perusahaan dengan mengakuisisi 100% saham Novus Petroleum Ltd dari perusahaan Australia. Dengan akuisisi tersebut Medco mempunyai operasi migas internasional di Amerika Serikat, Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Bisnis Energi Baru dan Akuisisi Newmont
Tidak puas di bisnis migas, Medco juga masuk ke bisnis pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Salah satu proyeknya adalah pembangkit panas bumi terbesar di dunia, yang potensi listriknya mencapai lebih dari 1.000 megawatt (MW) di Sarulla, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.
Langkah besar, Medco lainnya adalah akuisisi saham PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), perusahaan tambang emas besar yang lokasinya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Nilai akuisisi US$ 2,6 miliar (Rp 33,8 triliun) di tahun 2016.
Dengan akusisi tersebut, Medco mempunyai peran penting dalam menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia sanggup menggarap sumber daya alam secara baik dan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Keberhasilan Arifin Panigoro dan perusahaan yang didirikannya yaitu Medco patut dijadikan pelajaran. Sebagai salah satu pengusaha muslim yang sukses di Indonesia, Arifin Panigoro perlu dijadikan sumber inspirasi bagi setiap pengusaha Indonesia.











